75 / 100 Skor SEO

WartaSugesti.com | Bangkalan – Hidrocin Sabarudin Budayawan Madura menyebut Carok Madura sebagai tradisi penduduk Bumi Jokotole memang pernah ada di Pulau Garam.

Hidrocin Sabarudin mengemukakan bahwa carok sekarang ternyata bukan tradisi, dan keberadaan carok’ yang sebenarnya dianggap sudah hilang.

Carok sekarang menurut dia, lebih kepada makna perkelahian menggunakan senjata tajam.

Hidrocin Sabarudin selaku Budayawan Bumi Chakraningrat Bangkalan Madura akhirnya berbicara, menjawab berita soal carok Madura yang akhir-akhir ini viral usai terjadi tragedi di Kecamatan Tanjung Bumi Bangkalan Madura.

Berita tentang carok terangkat berbagai media sosial setelah sebelumnya pada Jumat 12 Januari 2024 yang lalu, warga Madura digegerkan dengan carok massal yang menewaskan 4 orang.

Budayawan Madura yang juga Tokoh Pencak Silat Madura ini menyebut, sebenarnya carok Madura bukan tradisi dan keberadaannya dimungkinkan telah menghilang.

Hal ini bukan tanpa alasan, Mas Do’ing (Panggilan Akrab Hidrocin Sabarudin) membeberkan pemikiran tersebut berdasarkan sejarah carok sejak berabad-abad lalu.

Dilansir dari Kanal Youtube tvOneNews pada 23 Januari 2024, Hidrocin Sabarudin mengatakan bahwa saat ini, kejadian yang ada sekarang bukan lagi carok, namun lebih kepada pengeroyokan.

“Mohon maaf sebelumnya, kalau boleh saya bilang di masa sekarang carok ini sudah tidak ada, sudah hilang, nama carok itu sudah bukan carok lagi sekarang di mana-mana terjadi pengeroyokan,” kata Hidrocin Sabarudin.

Menurut bahasa Kawi kata Caruk memiliki makna perkelahian, sehingga dikatakan Budayawan Madura ini bahwa Carok bukanlah sebuah tradisi jika tidak mengandung makna kebaikan.

“Carok ini sebetulnya bukan tradisi, dikatakan tradisi apabila itu mengandung makna kebaikan kepada masyarakat. Carok Madura hanya istilah dalam perkelahian yang khusus di Madura namanya Carok,” ungkap Budayawan Madura yang juga Pendekar ini.

Menurut Mas Do’ing jauh sebelum itu, pada abad ke 16 dulu, Carok sebenarnya merupakan penyelesaian akhir untuk meningkatkan harga diri apabila seseorang merasa dipermalukan di depan umum.

Akhir untuk meningkatkan harga diri apabila seseorang merasa dipermalukan di depan umum.

Kemudian hal ini dipegang kuat oleh Madura lewat peribahasa “Ethembang pothe matah, ango’an pothe a tolang’, secara bahasa berarti lebih baik putih mata dari pada putih tulang, bermakna daripada saya malu di depan orang banyak lebih baik mati saja.

Dulu katanya, carok dilakukan apabila penyelesaian lewat kata maaf saja tidak cukup dan tidak bisa termediasi oleh pihak ketiga termasuk tokoh agama sampai tiga kali.

Akhirnya, jalan satu-satunya untuk mengembalikan harga diri lewat carok tersebut.

Budayawan Madura ini mengatakan, Carok dilakukan dengan aturan-aturan dan ritual tertentu (selametan), kedua belah pihak keluarga sudah diberi tahu bahwa akan ada duel Carok demi harga diri. (spam)