WAY KANAN // Kenaikan harga plastik, baik plastik asoy, atau pun plastik putih (gula), dari berbagai ukuran membuat para pedagang di pasar tradisional mengeluh.
Pasalnya, kenaikan harga plastik atau (pindah harga) istilah para pedagang tersebut, sangat dirasakan oleh para pedagang, baik para pedagang sayur-sayuran dan sembako manisan.
Mereka adalah pedagang yang sangat bayak mengunakan plastik, baik buat bungkusan atau wadah para pembeli.
Baca juga : Heboh Kereta Api Terhenti di Kawasan Pasar Turi Surabaya
Hal ini disampaikan oleh para pedagang pasar tradisional, Kampung Pisang Baru Kecamatan Bumi Agung Kabupaten Way Kanan, saat WartaSugesti memantau situasi harga plastik di pasar tradisional tersebut.
Kamis. 02.04.2026.
“Benar, pak. Harga plastik naik, dari harga sebelumnya Rp. 40 ribu rupiah/Ikat. Kini meroket menjadi Rp. 60 ribu rupiah/Ikatnya mengalami kenaikan 2 sampai 3% Naik nya,” ungkap pak Rical pedagang sayuran
“Kalau pun komplit dari berbagai ukuran untuk wadah plastik asoy dari jumlah 13 ikat yang sebelumnya Rp.95 ribu rupiah kini naik menjadi Rp. 145 ribu rupiah/ikatnya.” Kata Pak Rical menambahkan.
“Dampak dari apa kenaikan plastik ini, kami para pedagang belum juga, tau apa penyebabnya,” pungkas Pak Rical.
Selain Pak Rical, Mas Ipul dan para pedagang lainnya juga sama, mengeluhkan kenaikan harga platik tersebut.
Karena walaupun plastik naik, sedangkan barang sembako dan sayur-sayuran tidak mungkin dinaikan harganya.
sehingga dampak dari kenaikan plastik tersebut memberatkan pedagang.
Senada juga, disampaikan pedagang plastik, Dedi prabowo. Dia membenarkan ada kenaikan plastik dalam Minggu terakhir di bulan Maret in, tapi dia nelum tau pasti apa penyebabnya.
“Benar, bang, untuk plastik naik dalam Minggu-mingu, terakhir ini. Seperti kemasan plastik gula yang untuk ukuran 1 kg, yang sebelumnya perpak Rp. 28 ribu rupiah, kini meroket menjadi Rp.55 ribu rupiah/ paknya,” kata Dedi.
“Dampak dari kenaikan plastik tersebut, baik plastik putih kemasan gula, atau plastik wadah asoy. Pendapatan hasil dari penjualan plastik saya, berkurang omset nya,” imbuh Dedi.
Para pedagang pasar berharap, agar kenaikan harga platik tersebut, dapat distabilkan lagi.
“Tentunya dalam hal ini
Pemerintah lah yang tau bagaimana cara mengatasi nya,” tutup Dedi.
Apakah kenaikan harga platik tersebut, ada hubungannya dengan krisis ekonomi secara global dampak dari perang di timur tengah
Atau, ada pihak-pihak tertentu yang nakal yang memampatkan situasi dan kondisi ekonomi Indonesia saat ini?.
Sudah sepantasnyalah Pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk turun kelapangan terkait kenaikan harga platik tersebut.
(Rikki).







