Berani Bicara dan Berani Berkarya: Refleksi Mahasiswa terhadap Proses Peningkatan Keterampilan Berbicara
Rahma Izza Azizah_25020074102
Tantangan mahasiswa untuk aktif mempresentasikan tugasnya didepan kelas dan dituntut tidak hanya paham dengan materi, tetapi juga mampu menyampaikannya dengan jelas, meyakinkan dan penuh percaya diri.
Namun proses menuju kemampuan berbicara yang efektif tidak dipungkiri bahwa proses tersebut cukup rumit jika tidak diiringi dengan pembelajaran dan latihan yang rutin dan konsisten.
Ia juga melibatkan keberanian untuk mencoba, kesiapan dikritik, dan kemauan untuk terus berlatih.
Dengan menekuni mata kuliah Keterampilan Berbicara, saya melihat dan merasakan bahwa proses belajar berbicara bukan hanya tentang kata-kata atau intonasi, tetapi juga tentang cara membangun keberanian untuk tampil dan menghidupkan makna di setiap kata-kata yang disampaikan.
Setiap praktik yang ditugaskan oleh bapak Ahsan dimulai dengan memperkenalkan diri dengan pembawaan yang berbeda dari biasanya, membuat sebuah acara “jika aku menjadi…”, membaca puisi, hingga menjelaskan suatu barang dengan argument persuasif kepada orang yang tidak saya kenal, ini menjadi ruang proses saya untuk berani berbicara dan terus berkarya.
Setelah satu semester saya mengikuti mata kuliah ini, saya mengalami perkembangan yang cukup pesat dari diri saya. Dari yang awalnya malu untuk tampil dihadapan orang kini saya sudah percaya diri untuk tampil tanpa harus gugup dan merasa malu.
Saya tidak jarang merasa takut saat akan menyampaikan kalimat yang saya sampaikan, kadang tidak selalu keluar sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Seiring berjalannya waktu, saya mulai membiasakan untuk menyusun alur, memilih kosakata yang tepat, dan membuat informasi diterima dengan mudah oleh lawan bicara saya.
Kesiapan mental sangat penting dalam proses berbicara. Dengan mental yang siap dan tangguh saya percaya bahwa pikiran dan perkataan yang keluar dari mulut akan selaras dengan keinginan hati dan hal ini lah yang akan bisa menghidupkan makna dalam suatu percakapan seseorang.
Kesiapan mental ini dapat kita laksanakan dengan melalui berbagai Latihan, misalnya mengontrol kegugupan, menjaga kontak mata, serta mengelola jeda berbicara agar tidak terburu-buru.
Dengan semua praktik yang saya lakukan ini membuat saya berkembang lebih baik sebelum saya mempelajari tentang keterampilan berbicara ini.
Perkembangan yang saya alami bukan terjadi saast presentasi di kelas saja tetapu juga saya rasakan dalam situasi sehari- hari seperti berdiskusi dengan teman, kelompok, maupun organisasi.
Dari berbagai aktivitas yang saya lakukan selama satu semester, saya mendapat beberapa pengalaman yang sangat berkesan.
Yang pertama pada saat pembelajaran daring secara mendadak bapak Ahsan membuat quiz dadakan yakni berbicara satu menit, dipilih acak melalui undian.
Pada saat itu nama saya terpilih di urutan pertama, dan tidak bisa mengelak disana saya merasa sangat gugup, saya bercerita tentang pengalaman organisasi saya yang dapat menumbuhkan minat saya terhadap Bahasa Indonesia waktu itu.
Dengan terbata-bata saya menceritakan pengalaman saya itu, cukup bagus untuk pertemuan awal di mata kuliah keterampilan berbicara kala itu.
Selanjutnya pengalaman paling berkesan saya yaitu saat Bpak Ahsan menugaskan untuk setiap individu dikelas bercerita dengan tema “Jika aku menjadi…” dan diberikan beberapa judul menarik. Saat itu saya memilih judul “Jika Aku Menjadi Seorang Guru di Pelosok Negeri”.
Aktivitas ini membuka kesempatan saya untuk ikut mendalami rasa mejadi guru di pelosok negeri yang banyak sekali mengalami kendala, tetapi masih dengan gigih memberikan ilmu nya untuk anak bangsa.
Peran keterampilan berbicara dapat membuat saya berlatih untuk bisa menyampaikan cerita dengan penuh ras sehingga rasa itu bisa sampai ke hati pendengar.
Selain dua kegiatan tersebut ada satu hsl lagi yang menurut saya berkesan dan cukup menantang, yakni menjelaskan suatu benda kepada orang asing.
Saya merasa ragu awalnya tetapi berbekal dengan pengalaman saya mengikuti mata kuliah ini saya dapat dengan mudah untuk menyampaikan berbagai informasi dengan lawan bicara saya.
Tidak hanya itu saja pada saat itu saya dan lawan bicara saya dengan santai dapat saling bertukar informasi mengenai benda yang saya jelaskan.
Melalui hal-hal paling berkesan itu dapat menjadi bukti bahwa saya yang awalnya masi ragu, gugup, dan malu untuk berbicara, seiring dengan berjalannya waktu saya juga bisa berkembang untuk lebih percaya diri dan berani mengimplementasikan praktik keterampilan berbicara dengan baik.
Tetapi sebelum saya mencapai itu semua saya mengalami beberapa tantangan.
Seperti yang saya singgung diawal bahwa tantangan terbesar yang saya hadapi adalah rasa gugup, dan takut jika kalimat saya tidak sesuai dengan keinginan saya.
Setiap kali saya berdiri di depan kelas, saya merasa bahwa pusat perhatian audiens ada pada diri saya. Hal inilah yang membuat saya gugup.
Untuk mengatasi tantangan tersebut saya mulai membiaskan diri latihan sebelum presentasi didepan kelas maupun sebelum tampil di berbagai acara.
Saya memahami dan menyiapkan kerangka apa saja yang ingin saya sampaikan, melatih pengaturan nafas untuk menenangkan diri, dan mencoba berbicara didepan cermin.
Secara bertahap, saya bisa menemukan pola bahwa semakin sering saya berbicara, maka semakin berkurang tingkat kegugupan yang saya rasakan. Karena itu saya menjadi lebih percaya diri untuk tampil didepan audiens.
Artikulasi, intonasi, dan public speaking lah kemampuan yang dengan jelas saya kuasai sekarang. Semakin jelasnya artikulasi setelah saya memahami pentingnya pengucapan yang jelas dalam percakapan. Dulu tidak jarang saya berbicara begitu cepat sehingga beberapa kata terdengar samar.
Namun melalui Latihan, saya belajar memperlambat tempo dan menjaga kejelasan setiap kata.
Intonasi saya juga berkembang, setelah saya belajar bahwa naik-turunnya suara memiliki peran penting dalam menghidupkan pembicaraan. Alih-alih berbicara dengan nada datar, saya kini mampu mengatur tekanan suara agar lebih menarik.
Selain itu kemampuan Public Speaking saya juga meningkat secara menyeluruh. Saya mengerti bagaimana menggunakan bahasa tubuh, mengatur kontak mata, dan membangun keterhubungan dengan audiens.
Berbicara secara spontan pun menjadi salah satu hal penting yang harus saya pelajari untuk menghadapi pertanyaan secara tiba-tiba.
Saya merasa perjalanan satu semester ini telah memberikan perubahan besar bagi diri saya. Saya tidak hanya belajar berbicara, tetapi belajar menjadi pribadi yang lebih percaya diri, terstruktur, dan berani menunjukkan gagasan.
Saya memahami bahwa suara saya adalah bagian dari jati diri saya, dan bahwa berbicara adalah keterampilan yang akan terus saya asah.
Harapan saya ke depan adalah mampu menjadi pembicara yang tidak hanya fasih, tetapi juga bijak, empatik, dan mampu memberikan dampak. Saya yakin bahwa dengan berani berbicara, saya juga sedang berani berkarya.
Pernyataan Orisinalitas
Saya menyatakan bahwa artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman dan pemikiran pribadi, bukan hasil generasi AI, dan telah saya periksa menggunakan alat deteksi plagiasi serta AI detector sesuai ketentuan.
Penulis : Rahma Izza Azizah_25020074102, Mahasiswi Universitas Negeri Surabaya
Baca juga : Sastra Sebagai Cermin Peradaban oleh Rahma Izza Azizah











