70 / 100 Skor SEO

Belajar Mengenal Bangsa dan Diri Melalui Sejarah Sastra

Ahmada Aurellia Maghfirani Dewi

 

Mata kuliah Sejarah Satra menurut saya adalah salah satu mata kuliah yang penting di dalam studi sastra, karena membahas perkembangan karya satra dari masa ke masa. Didalam Sejarah Sastra itu sendiri kita diajak untuk memahami bagaimana karya sastra itu lahir, tumbuh, dan berubah sesuai dengan konteks sosial, budaya, dan pemikiran masyarakat pada zamannya.

Sejarah Sastra juga memberikan gambaran mengenai hubungan antara sastra dengan kehidupan manusia. Dengan mempelajari sejarah sastra, kita dapat melihat bagaimana karya sastra menjadi cermin zaman dan sarana untuk menyampaikan nilai nilai tertentu.

Sebelum mengikuti mata kuliah Sejarah Sastra selama satu semester ini, saya punya ekspetasi dan harapan untuk bisa mengenal perkembangan sastra secara menyeluruh dan mendalam. Mulai dari karya klasik hingga karya modern. Serta juga untuk memahami latar belakang lahirnya suatu karya sastra, mengenal tokoh tokoh penting dalam sejarah sastra, dan juga analisis karya sastra yang relevan dengan kehidupan saat ini.

Pertama tama yaitu pemahaman saya tentang periode sejarah sastra Indonesia. Sejarah sastra di Indonesia terbagi menjadi beberapa periode, mulai dari sastra lama, sastra perintis, Balai Pustaka, sastra Pujangga Baru, Angkatan ’45, Angkatan ’66, sastra kontemporer, dan sastra era digital.

Pada Angkatan 45, banyak karya sastra yang bertemakan semangat revolusi, kebebasan, dan realitas sosial yang tentunya pun menggunakan bahasa yang penuh emosi dan kritik. Adapun juga tokoh pada Angkatan 45 ini yang paling sering saya dengar dari SD sampai sekarang ini adalah Chairil Anwar. Chairil Anwar dengan puisi yang berjudul “aku” nya yang melegenda sampai sekarang.

Menurut saya pada saat sastra kontemporer yaitu pada sekitar tahun 1980 an – 2000 an di situlah bentuk karya sastra di Indonesia semakin beragam, seperti novel, puisi, drama, dan cerpen. Di dalam satra kontemporer memuat banyak tema, seperti feminisme, urbanisasi, lingkungan, hingga spiritualitas.

Adapun juga pda sastra kontemporer ini tokoh yang saya kenal adalah Ayu Utami dengan novelnya yang berjudul Saman tahun 1998 yang dianggap membuka era baru dengan tema seksualitas, politik, dan kebebasan perempuan.

Dan tokoh sastra lainnya yaitu Dewi Lestari dengan novelnya yang berjudul Supernova pada tahun 2001 yang memadukan sains, filsafat, dan spiritualitas didalamnya. Ada juga sastra diera digital, yang dulu karya sastra hanya bisa dibaca lewat buku cetak, majalah, atau koran.

Sekarang karya sastra bisa dipublikasikan lewat media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, e-book, Wattpad, hingga platform daring. Ada puisi visual di Instagram, puisi suara di podcast, hingga cerpen bersambung di aplikasi yang membuat anak di era sekarang ini jadi suka mempelajari sastra. Dengan adanya sastra di era digital yang sekarang ini penulis tidak lagi bergantung pada penerbit besar, dan siapa pun bisa menulis dan langsung dibaca oleh banyak orang.

Menurut saya perkembangan sastra di era digital membuat dunia sastra lebih terbuka, interaktif, dan inklusif. Namun, semua juga pasti ada tantangannya, seperti kualitas karya, etika, dan peran teknologi harus terus diantisipasi agar sastra tetap menjadi ruang refleksi dan ekspresi yang bermakna.

Cara pandang saya setelah mengikuti mata kuliah Sejarah Sastra yang diampu oleh Bapak Ahsan ini, saya bukan hanya mendapatkan ilmu ilmu tentang sastra, tetapi juga public speaking dan debat pikiran bersama teman sekelas, meskipun saya tidak bisa berdebat. Bapak Ahsan juga menggunakan metode pembelajaran keterampilan berbicara di dalam mata kuliah sejarah sastra ini.

Pada pertemuan mata kuliah sejarah sastra akhir akhir ini, dengan adanya mini conference yang diadakan Bapak Ahsan itu sangat menarik, karena kita dapat menceritakan Angkatan dari masa ke masa tapi melalui podcast dengan teman sekelompok, selain itu kita juga membuat poster yang sesuai dengan angkatan masing masing, ada teman yang menjadi MC juga.

Selain itu ada juga saat kita disuruh membuat poster di kertas manila lalu di presentasikan, dengan adanya itu juga membantu kita nantinya saat menjadi seorang pendidik.

Awalnya semua karya sastra terasa sama saja bagi saya, tapi setelah belajar sejarah sastra, saya jadi tau bahwa zaman balai pustaka itu lebih formal, patuh pada aturan kolonial, serta bahasanya yang halus. Adapun pada Angkatan pujangga baru yaitu lebih ke idealisme, keindahan, dan nasionalisme. Serta Angkatan 66 yang karya nya lebih membahas kearah kritik sosial dan politik yang lebih tajam. Saya jadi lebih sadar bahwa perkembangan sastra mencerminkan perkembangan bangsa dari masa kolonial, kebangkitan nasional, revolusi, Orde Lama-Orde

Baru, hingga era reformasi. Sastra seperti cermin perjalanan masyarakat Indonesia. Setiap karya pasti memiliki sudut pandang tertentu. Pilihan tema, tokoh, gaya bahasa, itu semuanya mengandung nilai atau ide yang ingin disampaikan, dan juga melalui sejarah sastra saya belajar bahwa setiap periode memiliki keunikan dan kontribusinya masing masing.

Tidak ada angkatan terbaik, semuanya penting dalam membentuk wajah sastra Indonesia.

Relevansi materi sejarah sastra dengan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia membantu kita melihat bagaimana karya sastra berkembang dari masa ke masa, misalnya dari sastra klasik (pantun, syair, hikayat) hingga sastra modern (novel, cerpen, puisi kontemporer).

Hal ini tentunya penting agar siswa tidak hanya belajar bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi juga memahami nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Bisa juga untuk menumbuhkan apresiasi terhadap karya sastra. Dengan mengetahui sejarah sastra, siswa bisa menghargai karya lama sekaligus memahami konteks sosial dan budaya saat karya itu sendiri lahir.

Contoh sederhananya yaitu memahami puisi dari Chairil Anwar, dimana saya tidak hanya memahami dari segi bahasanya saja, tetapi juga memahami semangat zaman kemerdekaan.

Ada juga relevansi nya dengan bahasa dan sastra indonesa yaitu sejarah sastra memberikan dasar teorinya, sedangkan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia yaitu mengajarkan cara untuk mengaplikasikannya, seperti saya belajar tentang puisi romantik dalam sejarah sastra, lalu saya mencoba menulis puisi dengan gaya yang serupa.

Sikap kritis juga bisa dilihat dari kita menghubungkan karya sastra dengan realitas sosial, seperti melihat puisi dari Chairil Anwar yang mencerminkan semangat kemerdekaan, sementara cerpen kontemporer bisa menyinggung isu urbanisasi atau media sosial. Sikap kritis kita sebaiknya melihat bagaimana karya sastra itu sendiri menjadi cermin masyarakat, bukan hanya sekadar hiburan.

Ketika membaca novel populer, kita kadang bertanya, Apakah cerita ini hanya mengikuti tren, atau benar-benar memberi makna baru bagi pembaca?, Sikap kritis kita seharusnya tidak menelan mentah-mentah, tetapi juga menimbang kelebihan dan kekurangan dari novel tersebut. Sikap Kritis kita terhadap fenomena literasi kontemporer yaitu menyadari bahwa tidak semua bacaan digital itu berkualitas, jadi kita harus menyaring mana yang benar- benar karya ternyata sastra, dan mana yang hanya sekadar konten populer tanpa kedalaman.

Mata kuliah Sejarah Sastra ini ternyata bukan hanya tentang menghafal periode dan tokoh-tokoh penting, tetapi juga tentang memahami bagaimana karya sastra itu lahir, tumbuh, dan berubah sesuai dengan zamannya.

Dari Balai Pustaka yang formal, Pujangga Baru yang penuh idealisme,Angkatan ’45 yang bersemangat revolusi, hingga sastra kontemporer dan era digital yang lebih beragam dan terbuka, semuanya menunjukkan bahwa sastra adalah cermin perjalanan bangsa.

Melalui mata kuliah Sejarah Sastra saya menyadari bahwa setiap angkatan memiliki keunikan dan kontribusi masing-masing, tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Sejarah sastra juga memberi bekal penting bagi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, seperti membantu saya sebagai mahasiswa menghargai karya lama, memahami konteks sosial budaya, sekaligus melatih keterampilan berbicara.

Selain itu, pengalaman belajar dari Bapak Ahsan dengan metode kreatif seperti mini conference, podcast, dan poster membuat pembelajaran lebih hidup dan relevan dengan dunia pendidikan.

Dan yang terakhir harapan saya untuk sejarah sastra di masa depan yaitu sejarah sastra terus diajarkan agar generasi mendatang tidak kehilangan akar budaya, sekaligus bisa melihat bagaimana sastra menjadi bagian penting dari perjalanan bangsa.

Baca juga : Pemkot Surabaya Larang Sekolah Swasta Tahan Ijasah