WartaSugesti.com // Surakarta – Konflik internal kembali mengguncang Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Dua putra mendiang Pakubuwono XIII kini sama-sama mengklaim diri sebagai penerus sah takhta dengan gelar SISKS Pakubuwono XIV.
Mereka adalah KGPAA Hamangkunegoro atau Gusti Purbaya dan sang kakak, KGPH Hangabehi.
Baca Juga : Sejarah Sultan Suriansyah, Raja Banjar Pertama dan Hubungan Dekatnya Dengan Demak
Perebutan takhta ini bermula setelah wafatnya PB XIII.
Dari dua garis keturunan berbeda, masing-masing pihak kini memiliki kubu pendukung sendiri yang saling menobatkan raja baru.
Baca juga : Penyelundupan Narkoba Dalam Botol Sabun Wajah di Surabaya
Kubu pertama menobatkan Gusti Purbaya, putra bungsu PB XIII.
Sementara kubu kedua melalui Lembaga Dewan Adat (LDA) memilih Hangabehi, putra tertua dari istri kedua PB XIII.
Gusti prabu dijadwalkan menjalani prosesi jumrenengan dalem atau penobatan resmi pada Sabtu 15/11/2025, di kompleks Keraton Kartasura.
Ketua panitia GKR Timoer rumbay Kusuma Dewayani berkata, persiapan sudah mencapai 70 persen.
Dia mengklaim bahwa sebelum wafat, PB XIII telah menyepakati Gusti Purbaya sebagai penerus tahta.
Kesepakatan itu bahkan disaksikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Gubenur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan wakil Kota Surakarta Respati Ardi.
Namun dua hari sebelumnya, Kamis 13/11/2025, kubu Dewan lembaga adat ternyata lebih dulu menggelar penobatan bagi KGBH Hangabehi di Sasana Hangga Wina Keraton Surakarta.
Dalam prosesi itu Hangabehi yang mengenakan baju kebesaran raja melakukan sungkeman kepada sesepuh sebelum dinyatakan sah Pakubuwono ke XIV persi LDA.
Penobatan disaksikan KGPA Tedjowulan, GKR Wadansari Koes Moertiyah (Gosti Moeng) serta abdi dalem dan Sentono Keraton.
Gusti Moeng menjelaskan keputusan menobatkan Hangabehi diambil berdasarkan garis keturunan dan hukum adat Jawa yang mengutamakan anak laki-laki tertua.
“Hangabehi adalah anak pertama Sinuwun PB XIII. Secara adat dialah yang berhak naik tahta,” ujarnya, Kamis 13/11/2025.
Pernyataan ini sekaligus menegaskan penolakan terhadap penetapan Gusti Purbaya sebagai putra mahkota.
Meski begitu, pihak keluarga besar pendukung Gusti Purbaya tetap bersikeras menggelar jumrenengan dalem sesuai rencana. (lastomo)











