WartaSugesti.com // Balikpapan – Dalam dua dekade terakhir banyak muncul pertanyaan dan pendapat publik, bahkan ungkapan langsung seperti apakah pencak silat itu efektif dalam dunia nyata? dapatkah digunakan di arena MMA?.
Mengapa sebagian pesilat terlibat dalam konflik massal, dan mengapa silat tidak sepopuler bela diri modern lainnya.
Perdebatan ini wajar muncul di era media sosial, ketika efektivitas bela diri sering dinilai melalui bukti visual, kompetisi internasional, dan rekam jejak atlet.
Namun kondisi ini memunculkan kesan bahwa pencak silat sulit berkembang di ranah global dan memunculkan kembali pertanyaan penting: apakah pencak silat perlu dimodernisasi dan distandarisasi?
Beberapa pengamat menilai minimnya representasi pesilat di ajang internasional membuat silat belum “teruji” secara publik.
Selain itu, keragaman aliran di Indonesia, yang terbentuk oleh perbedaan geografis, adat, filosofi, dan kebutuhan—menciptakan teknik yang sangat luas, sehingga sulit dipahami secara universal oleh mereka yang baru mengenalnya.
Di sisi lain, realisasi teknik dalam pertandingan modern sering kali tidak mencerminkan seluruh jurus yang dipelajari di perguruan, terutama karena aturan pertandingan yang tidak full body contact di sebagian besar kompetisi.
Regulasi pemerintah dan promosi internasional juga dianggap belum optimal.
Pada sisi lain, ilmu olahraga modern seperti biomekanika, fisiologi latihan, dan sport psychology belum sepenuhnya terintegrasi dalam pembinaan pesilat..
Dari berbagai faktor tersebut muncul pertanyaan lebih dalam: apakah kondisi ini benar adanya, atau ada bagian dari pencak silat yang memang sengaja tetap dipertahankan sebagai ranah privat, terutama untuk aliran tradisional?
Fakta bahwa IPSI mencatat hampir 900 perguruan dan lebih dari 150 aliran menunjukkan betapa kayanya warisan pencak silat.
Keragaman ini sejatinya adalah identitas, bukan hambatan. Setiap aliran terbentuk melalui perjalanan panjang: dipengaruhi lingkungan sosial, medan geografis, tradisi lokal, hingga pengalaman spiritual para pendirinya.
Banyak aliran baru muncul bukan karena menyalahi tradisi, tetapi sebagai hasil pengembangan dari ilmu yang dipelajari sebelumnya.
Ini menjadikan pencak silat bersifat organik, terus bertumbuh mengikuti zaman.
Kalau dalam sebuah dokumen data kita mengenal kode atau nomor unik pada sebuah isi data sehingga dapat dilacak dan diidentifikasi, demikian juga keberagaman aliran dan perguruan justru penulis menganggap ini sebagai ciri khas keunikannya.
Dalam konteks modernisasi, perlu dipahami bahwa standarisasi tidak boleh menyentuh wilayah inti aliran seperti jurus dasar, filosofi, tradisi keluarga, atau pendekatan spiritual.
Elemen-elemen tersebut adalah DNA budaya pencak silat.
Bila standarisasi diterapkan secara menyeluruh, karakter khas tiap daerah akan terhapus, dan silat berpotensi kehilangan keaslian yang menjadi kekuatan utamanya sebagai kearifan lokal Nusantara.
Baca juga : Pencak Silat Menurut Falsafah Madura
Penulis pernah menemukan perguruan lokal daerah yang cukup aktif berprestasi di ajang kompetisi namun setelah ditelusuri asal dan ciri khas asli sudah sebagian besar bahkan ada yang sudah tidak mewarisi jadi hanya berfokus pada kompetisi prestasi saja.
Ini cukup disayangkan karena “DNA” aslinya sudah mulai pudar dimana sebelumnya cukup melegenda di masa lampau.
IPSI selama beberapa dekade telah berhasil melakukan standarisasi dalam ranah olahraga, terutama aturan pertandingan dan jenis jurus baku untuk keperluan perlombaan.
Namun, seni jurus baku tersebut tidak mewakili seluruh aliran, melainkan merupakan sintesis dari beberapa perguruan pendiri IPSI.
Ini bukan masalah, tetapi perlu disadari bahwa jurus standar hanya alat kompetisi—bukan representasi utuh pencak silat.
Aplikasi teknik lanjutan dari jurus baku pun sering kali tetap menjadi rahasia masing-masing perguruan, dan hanya dapat dipelajari secara mendalam dari guru aslinya.
Ketika ini dapat dipelajari akan menjadi nilai tambah tersendiri tentunya namun jarang pembahasan pecahan Teknik jurus standard tersebut dan dalam pelatihan pun masih sering pada kesempurnaan melakukan Gerakan dan ketepatan waktu ditambah ekspresi.
Tertutupnya tehnik susulan akan menjadi rahasia masing-masing perguruan / aliran tersebut dan bila ada yang berminat tentunya tidak sedikit waktu untuk belajar di setiap perguruan atau aliran untuk mendapatkannya, belum lagi terjemahan terhadap filosofi.

Misalnya dalam buku Pencak Silat Setia Hati Sejarah, Filosofi, Adat Istiadat karangan Agus Mulyana disitu dapat dilihat betapa dalam penciptaan jurus tidak lepas dari proses spiritual yang tinggi bahkan dalam Gerakan mengandung keilmuan makrifat sebagai simbol dan ajaran.
Hal ini juga banyak berlaku umumnya di aliran-aliran pencak silat yang umumnya diawali dari pejalan spiritual pendirinya.
Modernisasi yang ideal justru berada di ranah: Sport science untuk meningkatkan kemampuan atlet, metode latihan yang lebih terukur, kompetensi pelatih dan wasit, keselamatan olahraga, dan pengembangan silat nasional ke level internasional.
Sementara itu, wilayah budaya, filosofi, dan spiritualitas tetap menjadi keputusan para pewaris aliran: apakah akan tetap inklusif, eksklusif, berorientasi prestasi, atau menggabungkan keduanya.
Pada akhirnya, pilihan kembali kepada masing-masing guru dan murid: ingin mendalami silat sebagai warisan budaya atau sebagai olahraga kompetitif modern—atau keduanya sekaligus.
Penulis : Dwi Gatot, Pendekar Pemerhati Pencak Silat











