BANGKALAN // Wilayah ini pernah mengguncang ketenangan penguasa Mataran Islam di Tanah Jawa. Di masa jayanya, wilayahnya meliputi Bangkalan, Blega, hingga sebagian Sampang.
Inilah sejarah Kadipaten Tua di kawasan Utara Bumi Cakraningrat, yaitu Arosbaya, kini adalah wilayah setingkat kecamatan, diyakini menjadi bagian dari pusat kekuasaan Madura Barat sebelum bergeser ke Bangkalan pada masa kolonial.
Jauh sebelum Madura dikenal dengan empat kabupatennya seperti saat ini, sejarah mencatat keberadaan sebuah kekuatan besar yang pernah menguasai wilayah barat pulau garam tersebut.
Kadipaten Arosbaya, yang kini nyaris terlupakan, dulunya menjadi pusat kekuasaan penting bahkan sempat dipandang sebagai ancaman oleh Kesultanan Mataram.
Kadipaten Arosbaya atau Resbhejeh, merupakan kerajaan Islam awal di Madura Barat yang berkembang pesat pada abad ke-15 hingga ke-16.
Pusat pemerintahannya mula-mula berada di Plakaran, sebelum akhirnya dipindahkan ke wilayah yang lebih tinggi di Arosbaya, Bangkalan, oleh Panembahan Lemah Duwur.
Sejarawan lokal menyebut, lahirnya Arosbaya tak lepas dari peralihan besar budaya masyarakat Madura dari era pra-aksara dan Hindu-Buddha menuju Islam.
Transformasi ini diperkuat oleh kedatangan tokoh dari Majapahit, Ki Demang Plakaran, yang membawa pengaruh besar dalam sistem pemerintahan dan keagamaan.
“Arosbaya adalah tonggak awal peradaban Islam di Madura Barat yang memiliki struktur kekuasaan kuat dan mandiri,” ungkap salah satu pemerhati sejarah Madura.
Kekuasaan ini berlangsung tanpa intervensi asing selama beberapa dekade, sebelum akhirnya terusik oleh ekspansi militer dari Mataram.
Ketegangan memuncak saat Invasi Mataram pada 1624, yang memicu peperangan sengit.
Dampaknya, pusat kekuasaan perlahan bergeser dari Arosbaya menuju Bangkalan, menandai awal perubahan besar dalam struktur pemerintahan di Madura Barat.
Memasuki era kekuasaan Cakraningrat, pengaruh kolonial Belanda mulai masuk.
Pada periode Sultan Bangkalan I dan II (1780–1847), gelar “Sultan Bangkalan” mulai digunakan secara resmi, menandakan integrasi kekuasaan lokal dengan sistem kolonial.
“Perubahan nama dari Arosbaya ke Bangkalan bukan sekadar administratif, tetapi juga mencerminkan pergeseran pusat kekuasaan dan pengaruh politik kolonial,” jelas sumber tersebut.
Puncaknya terjadi pada tahun 1882, ketika pemerintah Hindia Belanda secara resmi menghapus sistem kerajaan.
Wilayah tersebut kemudian diubah menjadi Afdeeling Bangkalan di bawah Keresidenan Madura yang dipimpin oleh pejabat kolonial.
Sejak saat itu, nama Arosbaya perlahan menghilang dari panggung utama sejarah, digantikan oleh Bangkalan sebagai pusat administratif dan kekuasaan.
Kini, Arosbaya hanya tersisa sebagai bagian kecil dari wilayah Bangkalan.
Namun jejak sejarahnya tetap menjadi saksi bahwa Madura pernah memiliki kekuatan besar yang berpengaruh di masa lalu.
Tentunya sejarah tidak boleh terlupakan, jangan dininabobokan oleh tulisan semata.
Sebab sejarah, selalu ditulis oleh para pemenang.
Tutur pinutur carita turun temurun ke anak cucuk (nak potoh) harus tetap lestari untuk menjadi salah satu pemecut perjuangan generasi penerus.
Baca juga : Pencak Silat Dalam Falsafah Madura
Puisi Madura, Akulah Darahmu Karya D. Zawawi Imron mengajak pembaca untuk merenungkan tentang hubungan emosional, identitas, dan kebanggaan terhadap tanah air.
Madura, Akulah Darahmu
Di atasmu
Bongkahan batu yang bisu tidur merangkum nyala dan tumbuh berbunga doa
Biar berguling di atas duri hati tak kan luka
Meski mengeram di dalam nyeri cinta tak akan layu
Dan akua nak sulung yang sekaligus anak bungsumu kini kembali ke dalam rahimmu.
Dan tahulah bahwa aku sapi karapan yang lahir dari senyum dan air matamu.
Seusap debu hinggaplah, setetes embun hinggaplah,sebasah madu hinggaplah
Menanggung biru langit moyangku, menanggung karat emas semesta, menanggung parau sekarat tujuh benua.
Di sini perkenankan aku berseru:- Madura, engkaulah tangisku.
Bila musim labuh hujan tak turunkubasahi kau dengan denyutku
Bila dadamu kerontang kubajak kau dengan tanduk logamku
Di atas bukit garam kunyalakan otakku
Lantaran aku adalah sapi kerapan yang menetas dari senyum dan air matamu.
Aku lari mengejar ombak aku terbang memeluk bulan dan memetik bintang gemintang di ranting-ranting roh nenek-moyangku.
Di ubun langit ‘ku ucapkan sumpah:- Madura, akulah darahmu.
(spam)







