Air panas yang tidak diperlukan lagi, jangan langsung dibuang, bahaya, bisa terkena anak makhluk lain.
Caranya? Masukkan air panas itu ke wadah yang berisi air dingin, diamkan beberapa menit. Setelah dingin. Baru dibuang.
Sebelum dibuang, bacalah paling tidak bismillah. Suara dikeraskan, agar terdengar yang lain, jangan bibir saja bergerak. Agar makhluk lain yang tidak terlihat tahu Kita sedang membuang sesuatu yang mungkin bisa terkena dia atau anaknya.
Itulah pesan Almarhumah Ibu saya. Pesan yang selalu saya ingat dan lakukan dan saya wariskan ke anak.
Karena ada kejadian, orang yang sembarangan membuang air panas, mendadak sakit.
Jika seseorang menuangkan air, mendinginkan air panas terlebih dahulu di dalam ember sebelum dibuang.
Baca juga : 17.800, Siapa Bilang Kurs Dolar Tak Berpengaruh Terhadap Rakyat Kecil? Baca uraiannya.
Pesan yang disampaikan mengandung dua sisi yang menarik:
Sisi keselamatan dan kehati-hatian
Mendinginkan air panas sebelum dibuang memang merupakan kebiasaan yang bijak.
Air yang masih sangat panas dapat melukai anak kecil, hewan peliharaan, atau siapa pun yang tidak sengaja terkena.
Dalam banyak rumah tangga, kebiasaan ini merupakan bentuk kepedulian terhadap keselamatan orang lain.
Sisi budaya dan nilai penghormatan
Nasihat almarhumah ibu untuk mengucapkan Bismillah dengan suara yang cukup terdengar mencerminkan tradisi yang hidup di banyak keluarga Muslim Indonesia.
Kebiasaan itu mengajarkan adab, kesadaran, dan sikap tidak sembarangan ketika melakukan sesuatu yang berpotensi menimbulkan mudarat.
Selain sebagai doa, hal itu juga menjadi pengingat agar kita bertindak hati-hati.
Mengenai kisah orang yang mendadak sakit setelah membuang air panas sembarangan, ada yang memandangnya sebagai peringatan spiritual, ada pula yang melihatnya sebagai kebetulan atau akibat lain yang tidak diketahui.
Terlepas dari perbedaan pandangan tersebut, pesan utama yang diwariskan ibu saya tetap bernilai: berbuat hati-hati, tidak merugikan makhluk lain, dan selalu mengingat Allah dalam setiap tindakan.
Warisan seperti ini sering kali lebih dari sekadar aturan rumah tangga.
Ia menjadi pengingat bahwa bahkan saat membuang air pun, seseorang diajak untuk memiliki rasa tanggung jawab dan kepedulian terhadap lingkungan di sekitarnya.
Banyak nilai kehidupan diwariskan melalui nasihat sederhana dari orang tua.
Kadang bukan hanya tentang air panas atau cara membuangnya, tetapi tentang membangun kebiasaan berhati-hati, menghormati sesama makhluk, dan tidak bertindak sembarangan.
Menariknya, kebiasaan seperti ini sering lahir dari perpaduan pengalaman hidup, ajaran agama, dan kearifan lokal.
Dari hal yang tampak sepele, seseorang belajar untuk berpikir: “Apakah tindakan saya bisa merugikan orang lain?”
Pertanyaan sederhana itu sesungguhnya merupakan fondasi akhlak yang baik.
Semoga amal baik almarhumah ibu diterima Allah SWT, diampuni segala khilafnya, dilapangkan kuburnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya.
Dan semoga nasihat yang terus diamalkan serta wariskan kepada anak-anak menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat, keberkahan, kesehatan, dan keselamatan kepada kita serta keluarga.
Semoga segala kebaikan yang diajarkan oleh kedua orang tua menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup, dan setiap amal baik yang terus diamalkan menjadi pahala yang mengalir tanpa putus.
Seperti setetes air yang menimbulkan riak di permukaan kolam, nasihat yang baik pun dapat menyebar dari satu generasi ke generasi berikutnya, membawa manfaat yang jauh lebih besar daripada yang terlihat.
Semoga hari Anda dipenuhi keberkahan dan kemudahan.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.
(Juna)







