75 / 100 Skor SEO

Ujung Galuh, wartasugesti.com – Ini cerita pahit manis menjadi  Wartawan, di tengah tekanan dan himpitan ekonomi bangsa yang menghawatirkan, serta dalam kondisi bisnis media yang lesu seperti sekarang.

Sebagian mengatakan, seorang Jurnalis harus punya keberanian keluar dari zona nyaman, yang hanya menyajikan berita-berita seremonial.

Narasi seremonial itu adalah berita kegiatan pemerintah dan jajarannya, memang masih mendominasi ruang pemberitaan media daerah.

Di mana saja zona nyaman Wartawan itu?

Hampir setiap hari publik disuguhi laporan rapat, kunjungan kerja, peresmian, baksos, sidak, hingga seremoni lainnya.

Kalangan pakar berpendapat, Wartawan dinilai perlu lebih berani keluar dari zona nyaman untuk mengembangkan liputan kegiatan menjadi isu yang lebih mendalam.

Apakah Wartawan masih memiliki cukup waktu untuk menggali persoalan yang benar-benar berdampak bagi masyarakat?

Agenda resmi pemerintahan menjadi sumber berita yang paling sering diliput.

Bahkan media-media baru berlomba mengajukan kerja sama peliputan

Apakah pilar ke 4 bangsa ini, lebih suka menunggu berita dibanding membuat berita?

Kemampuan mengembangkan berita liputan seremonial menjadi berita yang lebih bernilai merupakan keterampilan yang wajib dimiliki setiap jurnalis.

“Tapi apakah dibayar?”

Monetisasi jurnalistik sebenarnya kembali kepada semangat belajar, jam terbang, kualitas insting, dan kemampuan masing-masing jurnalis untuk menjadikan berita bernilai jual tinggi.

Jurnalis yang cerdas pasti pandai mengangkat isu-isu sensitif untuk dikembangkan dan dikemas menjadi informasi yang aktual serta mendalam.

Baca juga : Ngapain sih wartawan datang tanya-tanya? Apa haknya?

Tantangan wartawan dan media saat ini semakin kompleks.

Di satu sisi perusahaan pers dituntut menjaga keberlanjutan bisnis, sementara di sisi lain idealisme jurnalistik harus tetap dipertahankan.

Apakah media hanya menampilkan berita seremonial tanpa ada update yang berkelanjutan?.

Media dan Wartawan membutuhkan income, tetapi idealisme jurnalistik juga harus tetap dijaga

Berita yang baik tidak hanya berfokus pada unsur “what” tetapi harus digali unsur “why”.

Mengapa ada itu?
Mengapa itu terjadi?
Mengapa disuruh begitu?
Mengapa tidak begitu?

Seorang tokoh senior berkata, “Kalau ingin gaji bulanan, kerja kantoran saja jangan jadi Jurnalis, gajinya cuman harian tapi cukup dimakan berbulan-bulan”.

(spam)