77 / 100 Skor SEO

WartaSugesti.com | Jin dalam bahasa arab: جن disebut Janna. Kata “Jin” berasal dari “Jann” yang artinya juga tertutup. Jin tersingkap dari pandangan kecuali Allah berkehendak.

Bapaknya Para Jin adalah Al Jin bernama Saum atau Samum.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Ra, ketika Allah menciptakan Jin pertama kali dari api yang berkobar. Dia berkata kepadanya: “Katakan permintaanmu!” Saum menjawab: “Kami meminta kepada-Mu agar kami dapat melihat, tetapi kami tidak mampu dilihat, kami sirna di Bintang Tsura, dan kami tidak mati kecuali kami dalam kondisi muda seperti anak kecil.”

Kemudian Allah mengabulkannya. Lalu keturunan jin tersebut mulai tersesat dan selalu berperang antar sesama bangsa Jin.

Ketika diutus rasul/utusan malaikat bernama Yusuf ia pun terbunuh. Lantaran terbunuhnya utusan Jin maka Allah mengutus dan menguji Azazil untuk menaklukan dan menyadarkan para jin kafir tersebut di bumi ini.

Jin
Foto : Salah satu buku yang bisa dijadikan rujukan untuk mengenal Jin

Dari Aisyah RA, Nabi SAW bersabda, Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang berkobar, sedangkan Adam (manusia) diciptakan sebagaimana yang telah dijelaskan kepada kalian (tanah).” (HR Muslim).

Jin memiliki akal dan Nafsu mempunyai silsilah keturunan pria dan wanita sama seperti manusia juga memiliki kepercayaan agama yang berbeda sesuai jamannya.

Pemimpin Jin Adalah Azazil al-harits yang sebelum Nabi Adam AS ada menjadi pimpinan jin beserta para Malaikat di jagad raya alam semesta ini, saat itu ia tunduk taat dan tauhid kepada penciptanya Allah SWT.

Surah Al Jinn Ayat 1-5, surah ke 72 dalam Al Qur’an, terdiri dari 28 ayat, surah Makkiyah, menjadi rujukan ilmiah yang menjelaskan bahwa Jin itu memang ada.

Kutipan isi Al Quran Surah Al Jin Ayat 1-5 adalah sebagai berikut:
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ
1. Artinya: Katakanlah (Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwa sekumpulan jin telah mendengarkan (bacaan),” lalu mereka berkata, “Kami telah mendengarkan bacaan yang menakjubkan (Al-Qur’an),

يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ
2. Artinya: (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami,

وَّاَنَّهٗ تَعٰلٰى جَدُّ رَبِّنَا مَا اتَّخَذَ صَاحِبَةً وَّلَا وَلَدًاۖ
3. Artinya: dan sesungguhnya Mahatinggi keagungan Tuhan kami, Dia tidak beristri dan tidak beranak.”

وَّاَنَّهٗ كَانَ يَقُوْلُ سَفِيْهُنَا عَلَى اللّٰهِ شَطَطًاۖ
4. Artinya: Dan sesungguhnya orang yang bodoh di antara kami dahulu selalu mengucapkan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah,

وَّاَنَّا ظَنَنَّآ اَنْ لَّنْ تَقُوْلَ الْاِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللّٰهِ كَذِبًاۙ
5. Artinya: dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.

Prof Muhammad Quraish Shihab, rektor kedelapan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah tersebut menegaskan bahwa kepercayaan akan makhluk halus sudah ada di tengah komunitas manusia.

Bahkan katanya, keyakinan itu melekat sejak sebelum mereka mengenal dakwah agama tauhid.

“Dalam kepercayaan yang mereka peluk pada masa pra-Islam, makhluk-makhluk itu dikatakan tidak semuanya jahat. Ada yang bersahabat dengan manusia; ada pula yang memusuhi. Ada yang memberi manfaat, tetapi sebagian juga mengakibatkan mudarat,” ujar Sang Profesor pada pembukaan salah satu bukunya.

 

 

Penulis : Abu Abdurrohman Salim Al Fauzan