YOGYAKARTA // Mayoritas anak muda mendukung gagasan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang diinisiasi Muhammadiyah.
Pusat Studi Kebijakan Publik (PSKP) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) merilis Laporan Survei Nasional bertajuk “Muhammadiyah di Mata Anak Muda” pada Senin (30/3/26).
Kepala PSKP UAD, Azaki Khoirudin, mengungkapkan bahwa dari 758 responden berusia 17–40 tahun, sebanyak 82,9 persen menyatakan setuju terhadap KHGT.
Sementara itu, 11,7 persen responden menyatakan belum mengetahui, dan hanya 5,4 persen yang menyatakan tidak setuju terhadap penggunaan Kalender Hijriah Global Tunggal.
“Angka ‘tidak tahu’ yang lebih besar dibandingkan penolak menunjukkan bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan adalah aspek edukasi, bukan penolakan,” ujarnya.
Menurut Azaki, temuan ini mencerminkan kecenderungan generasi muda yang menginginkan kepastian dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri.
Ia menilai, perdebatan tahunan terkait penetapan hari besar Islam mulai ditinggalkan oleh kalangan muda.
“Anak muda tampaknya sudah jenuh dengan perdebatan penentuan Lebaran setiap tahun. Survei ini menunjukkan bahwa mayoritas telah menerima dan mendukung KHGT sebagai solusi,” tegasnya.
Pendekatan Kalender Hijriah Global Tunggal, yang memadukan dalil keagamaan dengan sains astronomi modern dinilai relevan dengan karakter generasi Z dan milenial yang cenderung menyukai kepastian dan kepraktisan.
Lebih lanjut, Azaki menyebut bahwa tingginya tingkat dukungan ini menjadi sinyal positif bagi Muhammadiyah dalam mendorong pembaruan sistem kalender Islam yang lebih terintegrasi secara global.
“Data ini merupakan sinyal bahwa visi besar Muhammadiyah untuk menyatukan umat melalui pendekatan sains mendapatkan respons positif dari generasi muda. KHGT menjadi solusi modern atas persoalan klasik umat,” pungkasnya.
Umat Islam di seluruh dunia masih menghadapi disparitas dalam memulai ibadah-ibadah utama, seperti puasa Ramadan dan Idulfitri.
Perbedaan ini tidak hanya membingungkan, tetapi juga berpotensi merenggangkan persatuan umat.
Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) diusulkan sebagai solusi integratif untuk mewujudkan prinsip “satu hari, satu tanggal” bagi seluruh umat Islam.
Baca juga : One Day One Juz oleh Ustadz Muhdor Hadi DAI Surabaya
Kalender Hijriah Global Tunggal di awal-awal mirip kisah lama Pelurusan Kiblat pada masa KH. Ahmad Dahlan
Alkisah, awal abad ke-20, KH Ahmad Dahlan yang baru pulang dari Mekkah membawa suatu kegelisahan.
Ia mempelajari ilmu falak dan ilmu bumi, lalu menyadari bahwa arah kiblat masjid-masjid di Yogyakarta kurang tepat.
Selama ini masyarakat shalat menghadap lurus ke barat, padahal arah Ka’bah sebenarnya condong ke barat laut.
Bagi sebagian orang, seharusnya ini hanya persoalan teknis kemampuan mengukur.
Tetapi bagi masyarakat waktu itu, hal ini menjadi begitu sensitif karena terkait dengan otoritas agama dan tradisi yang turun-temurun.
KH Ahmad Dahlan berdialog dengan para ulama.
Ia menjelaskan dengan dalil dan perhitungan ilmiah. Namun penolakan tetap muncul.
Bahkan langgar yang dibangun dengan arah kiblat yang ia luruskan secara mandiri sempat dibongkar.
Ia pun dituduh membawa ajaran baru – bahkan dianggap akan makar terhadap Keraton Yogyakarta.
Bayangkan saja, tekanan sosial dari sekelilingnya yang begitu keras saat itu.
Tidak sedikit yang mencibir, bahkan memusuhi.
Ia dan istrinya sempat kecewa berat, bahkan berencana pergi angkat kaki dari Jogja.
Namun pada akhirnya, ia tidak mundur & konsisten dengan keyakinan ilmiahnya.
Hari ini, lebih dari seabad berlalu, hampir semua masjid di Indonesia juga bahkan dunia menggunakan arah kiblat berbasis ilmu falak yang akurat.
Tak ada lagi perdebatan berarti soal itu. Apa yang dulu dianggap kontroversial kini menjadi standar normal.
Sejarah memberi pelajaran sederhana:
Pembaharuan yang berbasis ilmu dan data, asalkan berawal dari niat baik seringkali ditolak pada awalnya.
Namun, pelan tapi pasti, akan diterima juga pada suatu masa nanti, ketika terasa manfaatnya.
(spam)







