WartaSugesti.com // Bangkalan – Pagi itu, seorang pasien tersenyum sambil duduk di kursi periksa.
“Dok, ingat dengan saya?” ujarnya.
Saya tersenyum kaku. “Maaf… sepertinya saya lupa.”
Ia tertawa kecil, “Saya dulu yang kecelakaan. Empat gigi depan goyang semua, berdarah”. Panik satu kampung nganter saya ke sini.
“Tapi sekarang, lihat dok… masih kuat sampai hari ini,” imbuh dia.
Saya terdiam. Bukan karena tak ingat, tapi karena kenangan itu datang seperti gelombang besar yang tak terduga.
Dua puluh tahun lalu.
Saya masih dokter gigi yang baru membuka praktik. Ilmu ada, semangat meluap, tapi pengalaman? masih tipis seperti kertas resep.
Kronologis
Suatu sore mendadak ramai. Seorang pemuda datang diantar warga sekampung. Korban kecelakaan.
Bibirnya pecah, darah masih segar, dan empat gigi depannya goyang hampir seperti hendak tanggal.
Saya kaget. Jantung berdegup cepat. Dalam kepala, teori berputar-putar: trauma dentoalveolar… reposisi… splinting.
“Ya, splinting”.
Itu yang diajarkan dosen saya. Tapi saat itu saya menoleh ke laci, ke meja instrumen—tak ada kawat splinting.
Praktik baru, alat masih terbatas.
Praktek kecil di kampung, bukan rumah sakit besar.
Apa yang harus saya lakukan?
Saya tak punya banyak waktu untuk ragu. Gigi harus distabilkan secepatnya.
Saya teringat pesan dosen:
“Ilmu itu bukan hanya hafalan. Ilmu itu keberanian mengambil keputusan yang benar dalam keterbatasan.”
Saya keluar sebentar, bertanya pada paman yang tinggal tak jauh dari tempat praktek.
“Saya butuh kawat kecil, anti karat, lentur tapi kuat.” tanyaku.
Paman berpikir sejenak, lalu berkata,
“Kalau begitu… pakai kawat antena TV saja.”
Kawat antena. Sederhana. Tidak tercantum di buku teks. Tidak ada dalam modul praktikum.
Saya kembali ke ruang praktek dengan kawat itu di tangan.
Sebelum memulai, dalam hati saya kirim Al-Fatihah untuk dosen yang mengajari saya teknik splinting.
Saya berbisik, “Bismillah”.
Dengan hati-hati saya reposisi gigi yang goyang, membersihkan area, lalu memasang kawat antena itu sebagai splint sementara.
Fokus penuh. Tangan tak boleh gemetar.
Selesai.
Saya tidak tahu pasti bagaimana hasilnya nanti.
Yang saya tahu, saya sudah melakukan yang terbaik dengan ilmu dan fasilitas yang ada.
Seminggu kemudian, pasien itu datang kontrol.
Bengkak berkurang. Gigi lebih stabil. Ada progres yang membuat saya lega luar biasa.
Saat itulah saya menggantinya dengan kawat yang memang khusus untuk splinting, yang sudah sempat saya pesan.
Kasus itu selesai dengan baik.
Namun bagi saya, itu bukan sekadar perawatan trauma gigi.
Itu adalah momen kelulusan kedua—kelulusan dalam keberanian.
Beberapa hari setelah kejadian itu, saya menghubungi dosen saya.
Saya ceritakan semuanya, termasuk tentang kawat antena dan Al-Fatihah yang saya kirimkan untuk beliau sebelum tindakan.
Beliau tertawa, lalu berkata pelan,
“Yang penting prinsipnya benar. Kreativitas boleh, asal tanggung jawab tetap di depan.”
Ternyata kisah itu beliau ceritakan kepada mahasiswa adik tingkat saya.
Beberapa dari mereka bahkan menelepon, bertanya, memastikan, setengah kagum, setengah heran.
Saya hanya menjawab,
“Kita ini dokter. Kadang diuji bukan pada kasus yang mudah, tapi pada keterbatasan.”
Sekarang
Dan pagi ini, dua puluh tahun kemudian, pasien itu duduk di hadapan saya dengan empat gigi depan yang masih kuat.
Ilmu bisa dipelajari di kampus.
Teknik bisa dilatih di laboratorium.
Tapi keberanian mengambil keputusan dengan niat yang lurus—itu ditempa oleh keadaan.
Baca juga : Peluang Usaha Lulusan SMK Kesehatan Belajar Praktek Mandiri
Saya tersenyum pada pasien itu.
Ternyata, yang dulu saya pasang bukan sekadar kawat antena.
Yang saya pasang adalah keyakinan—bahwa selama niatnya menjaga dan menyelamatkan, Allah akan cukupkan jalan.
Dan hari ini, empat gigi itu menjadi saksi bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah, melainkan undangan untuk bertumbuh.







