75 / 100 Skor SEO

Jakarta, wartasugesti.com – Duet maut Prabowo Subianto dan Pramono menyongsong Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029 mencuat ke permukaan.

Sementara calon kontestan lain belum ada kabar burungnya.

Meski demikian, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) belum menunjukkan sikap pasti terkait kemungkinan berkoalisi dengan Partai Gerindra.

Termasuk jika partai tersebut menawarkan posisi calon wakil presiden (cawapres).

Lalu Gibran?

Politisi PDIP sekaligus Ketua DPC PDIP Solo, Aria Bima, mengatakan dinamika politik menuju Pilpres 2029 masih sangat cair.

Karena itu berbagai kemungkinan masih terbuka.

“Enggak ada itu, nanti lihat dinamika politik kan cair,” kata Aria Bima ditemui Wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (16/9/2026).

Aria mengomentari soal skenario PDIP berkoalisi dengan Gerindra dengan mengusung Prabowo-Pramono untuk menghadapi kubu yang dikaitkan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Jokowi maju lagi?

Aria menegaskan PDIP tidak melihat partai politik lain sebagai lawan yang harus dimusuhi.

“Enggak ada itu lawan-lawan. Semua itu adalah teman bertanding, kawan bermain. Enggak ada permusuhan, demokrasi itu lebih pada kayak olahraga, kita kan butuh teman bermain badminton, voli, jadi kita lebih melihat mitra kita berdemokrasi,” jelasnya.

Menurut Aria, hubungan antar partai politik dalam demokrasi seharusnya tidak dibangun atas dasar permusuhan ataupun sikap saling antipati.

“Tidak ada yang namanya hal-hal yang bersifat musuhan atau saling apriori dan antipati, kan banyak itu PSI kerja sama dengan (PDIP pada) pilkada di beberapa daerah, saya kira enggak benar itu,” tandasnya.

Lain lagi dengan Politisi Senior PDIP Hendrawan Supratikno. Dia memilih tidak berspekulasi terlalu jauh mengenai konfigurasi Pilpres 2029.

Ia menilai pembahasan mengenai kontestasi tersebut masih terlalu dini.

“Terlalu dini bicara pemilu 2029. Fokus perhatian kita sekarang adalah bagaimana rakyat dapat bertahan di tengah berbagai tekanan ekonomi dan ekologi yang disebabkan banyak faktor,” kata Hendrawan.

Sebelumnya, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, mengemukakan skenario duet Prabowo-Pramono untuk Pilpres 2029.

Baca juga : AMI Ancam Kepung DPRD dan Kantor PKB, Desak Pecat Angggota Dewan

Dedi menilai Prabowo dan Pramono dapat menjadi salah satu opsi pasangan yang diperhitungkan apabila Gerindra dan PDIP membangun kekuatan bersama.

“Prabowo dan Pramono bisa menjadi pilihan terbaik di 2029. Kekuatan yang dibangun oleh Gerindra dan PDIP memungkinkan keduanya mudah unggul dibanding pasangan lain,” kata Dedi.

Menurut Dedi, poros Gerindra-PDIP berpotensi semakin solid apabila mendapat dukungan partai lain, seperti Golkar dan PAN.

Dalam skenario tersebut, ia menilai posisi cawapres menjadi opsi realistis bagi PDIP dengan mempertimbangkan perolehan suara Gerindra yang berpotensi lebih besar.

Namun, Dedi menyebut konfigurasi tersebut masih menghadapi kemungkinan munculnya poros lain.

Ia menyoroti peluang Demokrat, NasDem, dan PKS membangun koalisi tersendiri sebagai kekuatan tandingan pada Pilpres 2029.