WartaSugesti.com // SIDOARJO – Muhammad Diar Azzam, siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muslimat NU Pucang Sidoarjo berhasil menyabet medali emas di World Mathematics Invitational (WMI) Tokyo dan meraih medali perak di Asia International Mathematical Olympiad (AIMO) Bangkok.
MI Muslimat NU Pucang Sidoarjo dan MTs Bilingual Muslimat NU Pucang Sidoarjo berhasil mengharumkan nama daerah di kancah internasional. Mereka mampu meraih medali dalam kompetisi internasional.
“Soal-soal WMI lebih sulit dibanding AIMO, kalau mau persiapan lomba saya latihan soal di sekolah bareng Pak Guru Rizal, kalau di rumah diajari Ibuk,” ucap Diar dikutip dari RadarSidoarjo, Rabu, (13/8/2025).
Selain itu, ada Elsawa Kireina Azzahra, siswa MTs Bilingual Muslimat NU Pucang yang juga menorehkan prestasi di WMI Tokyo. Sebelumnya, ia pernah meraih medali perunggu di Seamo, perunggu di SM Matematika dan emas di Thailand.
Kemudian, ada Iqbal Abqary Al Qarny, siswa kelas lima MI Muslimat NU Pucang yang juga sukses membawa pulang medali dari ajang WMI Tokyo.
“Saya bangga bisa bersaing dengan pelajar dari luar negeri,” katanya.
Kepala MI Muslimat NU Pucang, Dr. M. Hamim Thohari mengatakan, ajang AIMO di Thailand diikuti 32 negara. Sedangkan WMI di Jepang diikuti 18 negara.
Menurutnya, soal di Jepang jauh lebih sulit dibanding Thailand. Karenanya ia memberi tambahan jam pelajaran untuk siswa berbakat di bidang eksakta.
“Dibimbing langsung oleh guru-guru internal madrasah yang mengampu materi olimpiade, jadi kami tanpa mendatangkan pelatih dari luar,” ujarnya.
Dari satu kelas, sekitar 20 siswa dikirim mengikuti seleksi. Hasilnya, beberapa siswa berhasil menjuarai kompetisi internasional tersebut.
Menurutnya, hal itu menjadi kebanggaan bagi sekolah dan membuktikan bahwa madrasah mampu bersaing di tingkat global.
“MI Muslimat NU Pucang menjadi satu-satunya madrasah yang tampil di ajang tersebut,” ungkapnya.
Hamim menjelaskan, Muhammad Diar Azzam telah lima kali meraih golden award. Sementara Iqbal Abqary Al Qarny baru sekali.
“Prestasi tersebut akan terus kami regenerasikan ke siswa selanjutnya,” jelasnya.
Baca juga : SMPN 2 Tragah Bangkalan Madura Rusak Berat, Publik Pertanyakan Dana BOS
Kepala MTs Bilingual Muslimat NU Pucang, Syamsuhari menuturkan, di sekolahnya setiap hari siswa dibiasakan belajar matematika, bahasa Inggris dan sains. Metode pembelajaran matematika dilakukan secara holistik.
“Holistik yang kami maksud adalah mengajarkan semua komponen matematika dalam satu pertemuan, misalnya operasi hitung, pengolahan data, bangun datar, bangun ruang, dan konversi dibahas tuntas sekaligus,” terangnya.
“Metode ini membuat siswa tidak mudah lupa dan tidak menganggap matematika sebagai pelajaran yang menakutkan,” imbuhnya.
Kepala Bidang Mapenda Kemenag Jatim, Dr. H. Sugiyo, mewakili Kakanwil Kemenag Jatim mengapresiasi MI dan MTs Muslimat NU Pucang. Dia menyebut prestasi tersebut sangat luar biasa.
“Ini membuktikan, kalau siswa dari madrasah mampu bersaing di kancah nasional dan internasional, prestasi ini membanggakan Sidoarjo, Jawa Timur, bahkan Indonesia,” pungkasnya. (spam)







