WartaSugesti.com // Surabaya -Pendahuluan – Jika dulu saya menganggap bahwa keterampilan berbicara hanya soal berani berbicara didepan umum, satu semester ini membuktikan bahwa saya salah besar. Ternyata berbicara itu jauh lebih kompleks, ada tekniknya, ada pemahamannya serta ada prosesnya. Lewat mata kuliah ini saya belajar bagaimana cara menyampaikan pikiran, mengatur suara, dan bagaimana cara mengontrol diri serta sikap agar dapat menarik audiens.
Awalnya saya ragu, isi kepala dipenuhi dengan pertanyaan ”apakah saya bisa berkembang?”, dengan kekurangan saya ketika berbicara masih ada rasa gugup dan seringkali lupa dengan apa yang ingin saya sampaikan.
Setiap pertemuan ternyata membawa perubahan. Saya menyadari bahwa berbicara itu bukan hanya soal lancar atau tidak, tetapi bagaimana membuat orang lain itu paham dan nyaman dengan apa yang kita sampaikan.
Ada rasa bangga dan lega ketika saya bisa menyelesaikan tugas berbicara dengan tidak terlalu banyak rasa gugup, walaupun terkadang masih ada rasa takut dan canggung. Namun, justru lewat proses itu yang membuat saya merasa benar-benar berkembang.
1. Perkembangan Kemampuan Berbicara yang Saya Rasakan
Perkembangan yang paling terasa adalah soal kepercayaan diri. Saya yang dulu masih suka takut dan gugup jika harus berbicara didepan umum, sekarang mulai lebih tenang. Bukan berarti rasa gugupnya hilang total, tetapi saya merasa lebih bisa mengontrol diri saya daripada sebelumnya.
Selain itu, saya juga merasa kemampuan memilih kata sebelum berbicara menjadi lebih terarah. Biasanya cenderung lebih cepat dan kurang jelas, sekarang menjadi lebih sadar akan pentingnya jeda, intonasi dan struktur kata agar lebih dipahami oleh para audiens.
Hal-hal kecil seperti kontak mata, mimik wajah, serta bahasa tubuh ternyata sangat berpengaruh untuk memahami audiens. Pada awal perkuliahan, kami diminta untuk memperkenalkan diri serta menceritakan pengalaman dengan teman disekitar. Ini melatih kemampuan berbicara secara dasar.
Pertemuan selanjutnya adalah membuat peta konsep tentang pengertian, fungsi, manfaat, dan tujuan berbicara. Dari tugas sederhana itu, saya menjadi tahu bahwa berbicara sebenarnya memiliki struktur dan landasan yang kuat. Aktivitas ini menjadi titik awal dalam memahami diri sebagai seorang pembicara.
Adanya tugas kelompok yang mengharuskan kita untuk menjelaskan poster yang berisi prinsip, hakikat, manfaat, serta fungsi berbicara membuat kita harus berpikir bagaimana cara menjelaskan dengan memvisualisasikan sebuah teori menjadi sesuatu yang mudah dipahami.
Saya juga menyadari bahwa teori tanpa praktik itu tidak akan terasa progres nya, hal ini terdapat pada saat kita diminta untuk menceritakan pengalaman pribadi, berdongeng dan sejenisnya. Spontaitas sekaligus kepekaan dalam berkomunikasi juga terdapat pada kegiatan wawancara dengan teman.
Hal ini menurut saya lebih menantang karena kami belajar menyatukan pendengaran, pembicaraan, dan pergerakan untuk menyampaikan sebuah informasi.
Ketika diminta untuk menceritakan tokoh idola dengan data yang objektif, membuat saya berpikir bahwa ternyata berbicara tidak boleh asal bicara tetapi harus didukung dengan informasi yang benar. Untuk melatih ekspresi, intonasi, dan kemapuan untuk menghidupkan cerita, kami diminta untuk memerankan sebuah drama dan berdongeng.
Hal yang paling menantang lagi ketika diminta untuk menjelaskan alat peraga kepada audiens yang tidak dikenal disekitar kampus dan tidak boleh berasal dari jurusan yang sama. Hal ini membuka wawasan, karena membuat saya belajar mengatur alur penjelasan dengan memanfaatkan benda yang sudah saya persiapkan.
Untuk melatih kemampuan berpikir kritis, kami diminta untuk menjelaskan peran ”Jika aku menjadi …… maka aku akan …. ”. Kegiatan ini sekaligus membentuk kreatifitas serta dapat memposisikan diri dalam situasi tertentu.
Perkembangan pengendalian suara, ritme dan penghayatan saya dapatkan dari tugas membaca puisi dan analisisnya.
Adanya kritik atau sebuah komentar pada karya sastra karya Damhuri, membuat kita bisa menyampaikan pendapat secara runtut dan sopan.
Hal yang paling menarik adalah pada saat kegiatan mereview jurnal keterampilan berbicara dengan mempresentasikan hasilnya sekaligus menampilkan berbagai penampilan sesuai dengan kesepakatan kelompoknya masing-masing. Ini menunjukkan bahwa setiap orang mempunyai gaya bicara masing-masing. Ada yang ekspresif, ada yang tenang, ada yang humor dan ada yang penuh improvisasi.
Dari apa yang sudah saya pelajari , saya merasakan adanya perkembangan yang signifikan. Saya mulai lebih mampu menata gagasan sebelum berbicara, menjaga alur agar lebih teratur, dan memilih kata-kata yang lebih tepat. Rasa gugup yang dulu mendominasi saat harus tampil, kini perlahan mulai berkurang.
Sebelumnya, suara saya cenderung datar dan ragu-ragu, namun seiring waktu saya belajar memperbaiki intonasi, tekanan suara, dan ekspresi wajah.
Saya merasa kemampuan berbicara tidak hanya berkembang secara teknik, tetapi juga secara mental. Ada perubahan dalam keberanian, sebelumnya takut menjadi lebih berani karena adanya dorongan dan tantangan dari tugas-tugas sebelumnya.
Hal itu adalah sebuah sesuatu yang tidak bisa didapat hanya dari teori, tetapi benar-benar tumbuh dari latihan atau praktik yang terus menerus berulang.
2. Aktivitas atau Materi Paling Berkesan Selama Satu Semester
Dari satu semester ini, banyak aktivitas yang membekas dalam ingatan saya. Namun, beberapa di antaranya betul-betul membangun cara saya memandang seni berbicara, diantaranya yaitu :
- Menceritakan Pengalaman dan Berdongeng
Kegiatan ini menuntut saya tampil apa adanya , tidak bisa berpura-pura. Kita harus mengatur alur cerita, memilih bagian mana yang ingin ditekankan, dan menyesuaikan ekspresi agar cerita menarik. Ternyata, membuat orang lain tetap mendengarkan bukanlah hal yang mudah. Tetapi melalui latihan ini, saya merasa kepercayaan diri saya benar-benar diuji dan bertambah. - Sinkronisasi Pendengaran, Gerak, dan Ucapan
Di sini saya menyadari bahwa berbicara bukan hanya tentang suara. Ada pendengaran yang harus fokus, ada gerakan tubuh yang harus selaras. Melalui wawancara antar teman, saya belajar menjadi pendengar aktif yang dimana sebuah keterampilan yang sering diremehkan dalam komunikasi. - Drama dan Ekspresi
Ini adalah salah satu pertemuan paling menantang sekaligus menyenangkan. Saya harus masuk ke dalam karakter, menyesuaikan bahasa tubuh, dan mengatur intonasi agar pesan tersampaikan. Dari sini saya memahami bahwa berbicara juga adalah akting, yaitu sebuah seni yang membutuhkan keberanian dan keluwesan. - Membaca dan Menganalisis Puisi
Saya belajar menemukan keindahan dalam kata-kata. Puisi mengajarkan saya untuk memperhatikan diksi, ritme, dan emosi. Ketika membacakan puisi, saya seperti diajak merasakan bahasa dengan cara yang lebih dalam. - Review Jurnal dan Presentasi Kreatif
Menurut saya ini adalah pertemuan yang sangat berwarna. Setiap kelompok menampilkan kreativitas yang berbeda, meski sumber materinya sama. Kegiatan ini membuat saya belajar bekerja sama, menggabungkan pendapat, dan berbicara secara sistematis. Melihat keberagaman cara teman-teman menyampaikan materi membuat saya memahami bahwa berbicara memang memiliki banyak gaya dan ciri khas.
3. Tantangan yang Saya Hadapi dan Cara Mengatasinya
Tantangan terbesar bagi saya adalah rasa gugup dan sulitnya mengatur pikiran ketika harus tampil mendadak.
Pada pertemuan awal, suara saya sering bergetar dan alur penjelasan menjadi tidak teratur. Saya juga mudah lupa apa yang ingin disampaikan ketika perhatian tertuju pada banyak orang.
Tantangan lainnya adalah ketika harus menyampaikan pendapat secara spontan, misalnya saat mengomentari karya sastra atau memberi tanggapan terhadap presentasi teman.
Saya takut salah ucap, takut pendapat saya terdengar aneh, dan takut menyinggung orang lain.
Mengatur intonasi juga awalnya sulit, kadang terlalu cepat, kadang terlalu pelan, atau bahkan kadang tidak sesuai dengan isi kalimat.
Namun, perlahan-lahan saya belajar untuk membiasaan diri dan berlatih di rumah. Saya juga mulai belajar menerima bahwa rasa gugup itu hal yang wajar, dan menjadi tanda bahwa saya sedang belajar sesuatu hal yang penting.
Dari berbagai tugas yang sudah diberikan saya belajar menikmati prosesnya sedikit demi sedikit.
Hal yang paling membantu saya adalah dukungan dari teman-teman dan suasana kelas yang nyaman. Kami terbiasa memberi masukkan satu sama lain tanpa menjatuhkan. Setiap tantangan yang ada, membuat saya lebih memahami bagaimana cara berbicara dengan lebih baik.
4. Kompetensi Berbicara yang Paling Berkembang
Dari seluruh rangkaian pertemuan, beberapa kompetensi berbicara yang paling berkembang dalam diri saya
adalah :
- Artikulasi dan Intonasi
Huruf-huruf yang dulu saya ucapkan dengan terburu-buru sekarang menjadi lebih jelas. - Public Speaking
Saya lebih berani tampil, dan lebih bisa mengontrol suara. - Improvisasi
Saya mulai bisa berpikir cepat saat akan berbicara. - Intonasi
Belum semperna, tapi jauh lebih terkontrol dari sebelumnya.
5. Contoh Konkret Pengalaman Selama Perkuliahan
Selama satu semester ini, ada beberapa pengalaman yang cukup berkesan. Salah satunya pada saat melakukan wawancara antar teman.
Awalnya saya mengira ini hanya tanya jawab biasa, tetapi ternyata prosesnya menuntut saya untuk aktif mendengarkan, menyusun pertanyaan lanjutan secara spontan, dan menjaga alur percakapan agar tetap hidup. Dan dari situ saya menyadari bahwa kemampuan berbicara tidak terlepas dari kemampuan menyimak.
Tugas menjelaskan dengan menggunakan alat peraga menjadi momen penting bagi saya. Ternyata berbicara dengan memegang sebuah objek perlu adanya keselarasan antara kata dan tindakan. Saya harus bisa menjelaskan dengan runtut sambil memastikan audiens tetap fokus pada penjelasan saya.
Hal ini membuat saya belajar berbicara dengan lebih terstruktur dan tidak terburu-buru. Dan tentu saja, pengalaman yang paling seru Adalah Ketika kegiatan drama dan penampilan kelompok.
Saya belajar bahwa suara yang jelas, sikap tubuh yang tepat, dan kontak mata adalah unsur penting yang menentukan bagaimana pesan yang diterima oleh para audiens. Setiap pengalaman terasa seperti latihan kecil yang nantinya akan membangun fondasi besar.
Masing-masing tugas memberikan ruang bagi saya untuk berkembang, jatuh, bealajar, bangkit sedikit lebih baik dari sebelumnya.
Penutup
Selama satu semester ini , saya merasa banyak hal yang berubah dalam diri saya, terutama pada hal keberanian dan bagaimana cara untuk menyampaikan sesuatu.
Meskipun masih ada rasa gugup, tetapi sekarang hal itu bukanlah menjadi musuh saya, melainkan menjadi pengingat bahwa saya bergerak ke arah yang lebih baik.
Kedepannya saya berharap bisa terus melatih kemampuan berbicara, bukan hanya di perkuliahan tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Saya ingin lebih berani dalam mengemukakan pendapat dalam diskusi, lebih percaya diri saat presentasi dan lebih tenang Ketika berbicara didepan banyak orang.
Pelajaran yang dapat saya petik dari mata kuliah ini menjadi modal utama untuk perkembangan diri saya, baik dalam dunia akademik maupun kelak saat terjun ke dunia professional.
Saya juga menyadari bahwa keterampilan berbicara Adalah kemampuan yang perlu diasah secara terus menerus. Karena itu, saya berharap ke depan saya bisa lebih aktif dalam kegiatan yang melibatkan komunikasi.
Akhirnya saya merasa bersyukur karena proses belajar ini bukan hanya soal teori, tetapi juga soal keberanian, pengalaman, dan perubahan diri. Dari berbagai tantangan yang saya hadapi, saya memahami bahwa berbicara adalah sebuah seni, seni menyampaikan pesan dengan hati yang tenang dan pikiran yang lebih tertata.
Penulis : Ameylia Hannisa Karine, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNESA











