WartaSugesti.com // Surabaya – Apapun di Negara Konoha bisa menjadi konten, meski pun akun mereka belum mendapatkan Bayaran / Monetisasi.
Parahnya lagi, bahkan konten-konten yang berpotensi menimbulkan konflik begitu mudahnya menyebar di jejaring sosial.
Dan, sudah menjadi rumus alam, jika berita atau ucapan yang menjadi konten, maka informasinya akan ditambah-tambahi supaya menarik.
Apakah penyebar konten yang berpotensi konflik itu tak merasa berdosa? Atau apakah memang disuruh?
Konflik Parkir, Konflik Warga, Konten SARA berseliweran bikin emosi jiwa membuat panas hati.
Untuk kepentingan siapa?
Siapa sih yang pertama kali ngonten-ngonten itu?
Beberapa Kepala Daerah dan Kepala Dinas pernah ngonten, untuk perbaikan bangsa tentunya ya?
Marahi bawahan, masuk konten.
Masuk Got Ngonten. Sindir Suku tertentu jadi materi konten. Nyumbang sana sini bawa camera. Beri hadiah jadi bahan untuk menaikkan rating.
Itu riil apa setingan ?
Baca juga : Menapaki Sejarah Sastra Indonesia oleh Mahasiawa UNESA
Berkat konten, beberapa masalah menjadi viral lalu mendapatkan keadilan.
Namun tak sedikit yang memicu keributan.
Lalu sebaiknya bagaimana? Apakah konten medsos salah satu cara mencari keadilan dan dukungan?
Akibat konten medsos sangat beragam, bisa positif dan negatif.
Dampak negatif utama meliputi gangguan kesehatan mental (cemas, depresi, insecure, FOMO), penurunan produktivitas, kecanduan, cyberbullying, masalah privasi data, serta gangguan tidur dan fisik.
Konten berkualitas rendah (brain rot) mempengaruhi kemampuan kognitif dan analisis.
Dampak Positif Ngonten, informasi dan edukasi mudah tersebar, sebagai ekspresi diri dan penyalurkan kreativitas.
Konten juga memperluas jaringan dan menjalin komunikasi tanpa batas.
( Slamet Pegas Al Madury )











