77 / 100 Skor SEO

BANJARMASIN // Sebagai Lembaga Rehabilitasi, IPWL YPR Kobra (Institusi Penerima Wajib Lapor Yayasan Pemulihan Rehabilitasi Korban Narkoba), kata Ardian Noverdi selaku Ketua Lembaga tersebut, memandang bahwa pendekatan terhadap korban penyalahgunaan narkoba harus lebih mengedepankan aspek kemanusiaan, rehabilitasi, dan pemulihan sosial.

Kata Ketua IPWL YPR Kobra, tidak sedikit dari Mereka yang awalnya terjerumus karena lingkungan, tekanan hidup, pergaulan, bahkan kurangnya dukungan Keluarga.

“Menghukum tanpa memberi ruang pemulihan, sering kali tidak menyelesaikan akar masalah. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara penegakan hukum bagi Pengedar dan Bandar, serta rehabilitasi bagi Korban penyalahgunaan dan ketergantungan,” kata IPWL YPR Kobra Ardian Noverdi, Kamis (28/5/2026).

Ardian Noverdi, di kalangan Penguna Napza atau Kaum Janki dengan panggilan Bro Ardian menyebutkan, Pihaknya
di IPWL YPR Kobra melihat langsung bahwa banyak individu yang berhasil bangkit, kembali produktif, memperbaiki hubungan Keluarga, hingga kembali diterima Masyarakat setelah mendapatkan intervensi dan rehabilitasi yang tepat.

“Sudah saatnya stigma diubah. Korban penyalahgunaan narkoba bukan untuk dijauhi, tetapi dibantu agar pulih. Karena tujuan akhirnya bukan sekadar menghukum, melainkan menyelamatkan Generasi dan mengembalikan fungsi sosial seseorang di tengah Masyarakat,”
Ardian Noverdi menegaskan.

Background (latar belakang) Ketua IPWL YPR Kobra Ardian Noverdi adalah seorang militer yang masuk dunia konselor adict dan belajar cara mendalami metode adict, lewat program yang diciptakannya pemerkasaan dan pembentukan karakter bagi Pecandu narkoba dan zat adiktif lainnya.

“Biasanya rehab tanpa obat-obatan, dan Saya lebih ke herbal dan terapi.Untuk mental ya kami bentuk,” Ardian Noverdi
menjelaskan.

Dikatakan, sebagai Ketua IPWL YPR Kobra, Dia melihat langsung bagaimana stigma Masyarakat masih sangat kuat.

Banyak yang masih berpikir bahwa orang yang terkena narkoba harus dihukum, dijauhi, atau dianggap tidak bisa berubah. Padahal, dibalik itu semua ada manusia yang sedang kehilangan arah dan membutuhkan pertolongan.

Sukanya menurut Ardian Noverdi, ketika melihat seseorang yang dulunya hancur karena narkoba bisa bangkit, kembali sehat, kembali diterima keluarga, bekerja, bahkan menjadi pribadi yang bermanfaat.

“Ada kebanggaan tersendiri saat melihat meretka kembali memiliki harapan hidup dan masa depan. Namun dukanya, tidak sedikit yang datang dengan kondisi sulit, tidak punya biaya, ditolak Keluarga, bahkan dianggap sampah oleh lingkungan sekitar. Terkadang Kami menghadapi cibiran, kesalahpahaman, bahkan anggapan bahwa rehabilitasi adalah bisnis,” ungkap Ardian Noverdi.

Padahal, sejak awal Dia membangun rehabilitasi ini bukan untuk orientasi bisnis, tetapi bagaimana bisa membantu Para Penyalahguna NAPZA, terutama Masyarakat kecil dan Orang-orang susah yang membutuhkan tempat untuk pulih dan didampingi.

“Karena bagi Kami, menyelamatkan satu orang berarti menyelamatkan satu Keluarga, bahkan masa depan,” ungkapnya.

Jumlah klien di IPWL YPR Kobra
saat ini ada 80 orang dan hampir 60 % semua klien adalah Mereka Warga kurang mampu dan masuk kategori desil 1 sampai desil 5 yang harus dibantu melalui Program Pemerintah dan klien ini tidak saja datang dari Kalimantan Selatan, tapi ada juga dari luar Kalimantan Selatan.

(juna)

Baca juga : Kepala Adat Dayak Kutim Ajak Warga Jauhi Narkoba

Catatan informasi :

Desil adalah metode pengelompokan data statistik yang membagi data terurut menjadi 10 bagian yang sama besar, masing-masing sebesar 10%.

Istilah ini sangat populer digunakan oleh pemerintah (seperti BPS dan Kemensos) untuk mengelompokkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang menjadi acuan penyaluran bantuan sosial (bansos) agar tepat sasaran.

Pembagian desil kesejahteraan terbagi menjadi 10 tingkatan:

Desil 1: Kelompok masyarakat dengan kondisi paling miskin (sangat miskin).

Desil 2: Kelompok masyarakat miskin.

Desil 3 – 4: Kelompok masyarakat rentan miskin.

Desil 5 – 6: Kelompok masyarakat kelas menengah.

Desil 7 – 10: Kelompok masyarakat menengah ke atas hingga paling sejahtera. [1, 2, 3, 4, 5]

Skala ini memastikan bahwa program seperti bantuan pangan, Program Keluarga Harapan (PKH), hingga beasiswa pendidikan dapat diprioritaskan untuk masyarakat di golongan bawah (Desil 1-4).

Jika Anda ingin mengetahui desil Anda atau keluarga Anda, pemeriksaan status sosial ekonomi ini biasanya dapat diverifikasi melalui pendataan resmi pemerintah di laman Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) atau aplikasi resmi pemerintah setempat.