62 / 100 Skor SEO

WartaSugesti.com // Surabaya – Nila setitik jangan merusak susu sebelanga

Setiap malam 17 Agustus, masyarakat Jawa—baik yang tinggal di lereng maupun pesisir, dari desa hingga kota—berkumpul dalam suasana barikan atau tirakatan.

Tradisi ini bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan syukur dan penghormatan atas jasa para pejuang kemerdekaan.

Ia bukan sekadar budaya, tapi cerminan rasa terima kasih yang membumi dan hidup dalam kesadaran kolektif.

Dalam suasana khidmat, kita mengenang mereka yang telah berjuang agar kita bisa menikmati kemerdekaan hari ini.

Meski keadilan belum sepenuhnya merata, kita tetap bersyukur atas kebebasan beribadah, bekerja, dan mendidik anak-anak sesuai cita-cita.

Syukur ini bukan tanda kepuasan, melainkan pengakuan bahwa nikmat hari ini adalah buah dari jerih payah orang-orang sebelum kita.

Jangan sampai kekecewaan terhadap segelintir pemimpin membuat kita kufur terhadap jasa para pejuang.

Pepatah mengingatkan: “Karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga.” Syukur kepada Allah belum sempurna tanpa syukur kepada sesama.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Barang siapa tidak bersyukur kepada manusia, maka ia tidak bersyukur kepada Allah.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Teladan Rasulullah ﷺ dalam Menghormati Para Pahlawan

Dalam tradisi Islam, mengenang jasa pahlawan bukanlah hal asing.

Bahkan Rasulullah ﷺ memberi teladan yang sangat jelas. Dalam Mukhtashar Ibnu Katsir, Juz 2 halaman 279, diriwayatkan:

“Nabi Muhammad ﷺ berziarah ke makam syuhada’ Uhud setiap tahun. Beliau mengeraskan suara seraya berdoa:

‘Keselamatan atas kalian wahai ahli Uhud, atas kesabaran yang kalian persembahkan. Sungguh, inilah sebaik-baik tempat kembali. Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar, Umar, dan Utsman pun melanjutkan tradisi ini.’” (HR. Baihaqi)

Cara Rasulullah ﷺ mengeraskan suara dalam doa bukanlah untuk mencari pujian, apalagi agar didengar oleh Allah yang Maha Mendengar. Mustahil bagi beliau melakukan hal yang sia-sia. Setiap tindakan beliau adalah teladan (uswatun hasanah) bagi kaum muslimin.

Penguatan suara itu adalah isyarat agar umat mengikuti tradisi ini secara aktif dan penuh penghormatan—bukan sekadar mengenang, tapi menghidupkan semangat perjuangan.

Para khalifah pun meneladani dengan konsisten, menjadikan bukti bahwa ziarah tahunan ke makam para Pahlawan sebagai sunnah Rasul yang dianjurkan diikuti.

Tradisi Kita, Warisan Rasulullah ﷺ

Maka, memperingati jasa pahlawan bukanlah budaya asing. Ia adalah sunnah nabi yang dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para pemimpin setelahnya.

Tradisi barikan, tirakatan, dan ziarah bukan sekadar bentuk lokalitas, tapi pancaran dari nilai-nilai Islam yang luhur.

Semoga kita tidak hanya mengenang, tapi juga meneladani semangat mereka dalam menjaga nasionalisme dan memperjuangkan kebaikan serta kesetiaan bagi negara dan bangsa.

Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjaga tradisi ini sebagai bentuk syukur dan penghormatan yang hidup. Aamiin.