Bangkalan, wartasugesti.com – RKH. Imron Amin (Ra Ibong) yang merupakan Cicit Syaikhona Kholil, mengkritisi narasi yang mengaitkan lokasi penutupan Munas Alim Ulama dan Konbes NU di Bangkalan, rencana Selasa (23/6/2026), namun tergantung dengan kepastian kehadiran Presiden Prabowo Subianto.
Penutupan rangkaian Musyawarah Besar (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU) telah diputuskan ditempatkan di Institut Agama Islam Syaikhona Cholil, Desa Martajasah, Bangkalan, Jawa Timur pada Selasa (23/6/2026).
“Jika Presiden Prabowo bisa hadir, maka penutupan akan digelar di Bangkalan, namun apabila kehadiran presiden belum memungkinkan, maka penutupan akan dilakukan di Ploso. Narasi itu maksudnya apa?,” tegas salah seorang dzurriyah Syaikhona Kholil (Mbah Kholil) Bangkalan, RKH Imron Amin (Ra Ibong) kepada Tribun Madura, Minggu (21/6/2026).
Munculnya nama Presiden Prabowo dalam Penutupan Munas-Konbes NU disampaikan Sekretaris Jenderal PBNU, KH Saifullah Yusuf atau Gus Ipul di Ponpes Al Falah, Ploso, Kediri pada Selasa (16/6/2026).
Gus Ipul yang juga selaku Ketua Munas-Konbes NU menyampaikan, PBNU melalui rapat sudah memutuskan untuk mengundang Presiden Prabowo Subianto untuk datang ke Kabupaten Bangkalan.
Namun Gus Ipul juga menjelaskan bahwa lokasi penutupan masih menyesuaikan dengan jadwal presiden.
Baca juga : Warung Madura Tolok Ukur Ekonomi Bangsa
Menurut Ra Ibong, narasi tentang lokasi penutupan yang bersifat situasional dan bergantung kepada konfirmasi kehadiran Presiden Prabowo Subianto, merupakan pernyataan yang penuh sarat kepentingan.
“Ini sarat kepentingan semua, sampai muncul bahasa (Gus Ipul) seperti itu. Saya mempertayakan apa maksudnya?,” ungkap Ra Ibong.
Ra Ibong yang hadir dalam rapat persiapan di Ploso, Kediri menjelaskan, awalnya rangkaian pembukaan Munas-Konbes NU akan digelar di Kabupaten Bangkalan.
Namun akhirnya berubah dengan menjadikan Bangkalan sebagai tuan rumah pada rangkaian penutupan.
“Bahkan sempat muncul narasi ngalap barokah Mbah Kholil. Saya bilang ke Gus Ipul dan Kyai Miftachul Akhyar, kemarin-kemarin ke mana saja?,” ungkap Ra Ibong.
“Setelah seperti ini, setelah ribut, setelah kalian ‘berantem’, mau mengembalikan marwah NU ke Bangkalan dengan narasi ngalap barokah Mbah Kholil. Saya bilang enggak usah, kenapa ketika begini kalian ingat Bangkalan, atau ingat dengan Madura terutama dengan Mbah Kholilnya, kemarin ke mana saja,” tegas Ra Ibong.
“Kami dari keluarga besar Mbah Kholil berharap tidak ada lagi kegaduhan, tidak membuat konflik, mari kita berkhidmat kepada NU. Kalau ingin membenahi NU, mari kita benahi diri sendiri dulu, apa niat kita ke depan,” harap Ra Ibong.
Ajakan instropeksi diri tersebut disampaikan Ra Ibong untuk menepis anggapan KH Miftachul Akhyar, yang mengatakan bahwa keluarga besar Mbah Kholil Bangkalan menghalang-halangi kegiatan penutupan di Komplek Pesarean Mbah Kholil, Desa Martajasah.
(spam)







