75 / 100 Skor SEO

SORONG – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Sorong Raya menggelar aksi unjuk rasa dalam rangka memperingati 1 Mei 1963, yang mereka sebut sebagai awal “kebohongan sejarah” bangsa Papua, pada Kamis (1/5/2026).

Aksi long march mulai pukul 8.00 WI dipusatkan di Lampu merah Ellin Maranatha kota Sorong Papua Barat Daya, dengan melibatkan massa dari berbagai elemen masyarakat.

Dalam aksi itu, massa Papua Barat membawa spanduk dan poster yang berisi ” awal mula kebohongan sejarah bangsa Papua di aneksasi bukan integrasi”

Koordinator lapangan aksi demo di Papua Barat ini, Wemison menyampaikan bahwa tanggal 1 Mei 1963 dipandang oleh KNPB sebagai momentum penting yang menandai masuknya Papua ke dalam wilayah Indonesia melalui proses yang mereka nilai sebagai aneksasi, bukan integrasi.

“Sejarah yang terjadi pada 1 Mei 1963 harus diluruskan. Kami menilai itu bukan integrasi, tetapi aneksasi yang hingga kini berdampak pada kehidupan masyarakat Papua, hidup dalam genggaman kolonialisme Indonesia. Katanya tanah Papua bukan tanah NKRI.

Dalam aksi itu, KNPB mengangkat tema sentral “Papua Zona Darurat Militer dan Kemanusiaan”.

Mereka menyoroti situasi keamanan dan kondisi sosial masyarakat di sejumlah wilayah di Papua yang dinilai masih memprihatinkan.

Baca juga : Mahasiswa ITICM Sidoarjo Gelar Unjuk Rasa

Massa aksi juga menyerukan penghentian kekerasan serta meminta adanya perhatian serius terhadap isu-isu kemanusiaan di Papua.

Selain itu, mereka mendesak adanya ruang dialog terbuka untuk membahas berbagai persoalan yang terjadi.

Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan guna menjaga ketertiban. Hingga aksi berakhir, situasi terpantau berjalan relatif aman meski sempat terjadi ketegangan antara massa dan aparat di beberapa titik.

Peringatan 1 Mei setiap tahunnya kerap menjadi momentum bagi sejumlah kelompok di Papua untuk menyuarakan aspirasi politik dan isu-isu kemanusiaan yang mereka anggap belum terselesaikan hingga saat ini.

Hingga berita ini diturunkan Aksi berlangsung belum ada pernyataan resmi dari massa aksi tersebut wartawan media ini sedang mengawal

 

(Eskop Wisabla)